TARAKAN – Ekonomi Kalimantan Utara (Kaltara) pada triwulan II 2026 masih tumbuh positif, meski laju pertumbuhannya mengalami perlambatan. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Kaltara mencapai 4,96 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara, Agus Taufik, menyebut perlambatan tidak perlu dikhawatirkan berlebihan. Sebab, penopang utama pertumbuhan justru datang dari sektor industri pengolahan hasil hilirisasi di kawasan industri Tanah Kuning dan Mangkupadi, Kabupaten Bulungan.
“Triwulan II 2026, kita memiliki pertumbuhan sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya di angka 4,96 persen. Namun, kita ada sektor-sektor penggerak terutama di sektor yang keunggulannya luar biasa 28,6 persen,” ujar Agus saat konferensi pers di Tarakan, Senin (31/8/2026).
Agus menjelaskan, kehadiran Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional atau KIPI di Bulungan mendorong lonjakan Lapangan Usaha Industri Pengolahan hingga 28,06 persen yoy. Pendorongnya adalah peningkatan produksi kayu dan masuknya komoditas baru berupa aluminium dari tenant yang beroperasi di Kalimantan.
Faktor kunci lainnya adalah investasi hilirisasi bauksit menjadi alumina hingga aluminium. Rantai nilai tersebut dinilai memberikan dampak ekonomi berlipat.
“Mungkin investasi hilirisasi di KIPI itu memberikan investasi luar biasa karena dari bauksit, kemudian dari alumina, dan kemudian dari aluminium itu memberikan nilai tambah yang luar biasa, sampai 15 kali lebih dan itu berkontribusi terhadap pertumbuhan,” jelas Agus.
Menurutnya, industrialisasi berbasis sumber daya alam akan menjadi fondasi transformasi ekonomi Kaltara. Dengan potensi tambang dan SDA yang besar, BI mendorong agar proses hilirisasi terus diperluas agar nilai tambah komoditas tidak berhenti di bahan mentah.
“Intinya apa? Investasi itu memberikan peranan yang sangat besar bagi perekonomian di Kalimantan Utara. Kita tentunya mendorong agar industrialisasi-nya juga terjadi di Kalimantan karena tadi nilai tambahnya luar biasa, dari 1 komoditi saja tadi aluminium ternyata bisa menciptakan nilai tambah sebesar 15 kali,” pungkasnya.
Selain pertumbuhan, BI Kaltara juga berkomitmen menjaga stabilitas moneter daerah. Upaya lain yang didorong adalah penguatan sistem pembayaran digital. Tujuannya agar pembiayaan ekonomi daerah berjalan lebih inklusif dan seimbang, seiring masuknya investasi besar di sektor industri. (*)


















Discussion about this post