TARAKAN – Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, menggelar pertemuan dengan para pengusaha dan eksportir Kalimantan Utara (Kaltara) di Restaurant Bukit Intang, Tarakan, Minggu (30/8/2026).
Didampingi Kepala Balai Karantina Kaltara, Ichi Langlang Buana Machmud, kunjungan kerja ini untuk menyerap langsung kendala di lapangan terkait pelayanan karantina.
Dalam diskusi tersebut, Abdul Kadir Karding mendengar sejumlah keluhan dari pelaku usaha. Salah satu yang disoroti adalah proses sertifikasi mutu dan kesehatan yang dinilai terlalu panjang.
“Kita di Kaltara berdiskusi dengan teman-teman pelaku industri dan eksportir yang nyangkut pelayanan karantina di lapangan. Salah satu kendalanya adalah kita kan sekarang lagi piloting bersama KKP tentang dua standar. Standar mutunya dari KKP, standar sertifikasinya untuk kesehatannya di karantina. Ternyata ada beberapa keluhan bahwa proses ini terlalu panjang sehingga tidak menguntungkan misalnya untuk ikan segar dan ikan hidup,” kata Abdul Kadir kepada awak media usai pertemuan.
Selain itu, lanjut mantan anggota DPR RI ini, eksportir juga mengeluhkan keterbatasan kontainer khusus ekspor yang tidak tersedia di Tarakan. Akibatnya biaya logistik menjadi lebih mahal.
“Kalau ekspor langsung itu problemnya sebenarnya di kontainer. Kontainer ekspornya nggak punya di Tarakan. Jadi tadi malam saya sudah bicara dengan pak gubernur, bupati dan wakil gubernur. Mungkin solusinya pakai kontainer biasa aja, kalau misalnya ke Surabaya, di Surabaya dimasukin. Karena mahal kontainer ekspor itu,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan akan mengomunikasikan hal ini ke lintas sektor, termasuk ke negara tujuan ekspor. Menurutnya, jika negara tujuan seperti China tidak mempersyaratkan kontainer khusus, maka persyaratannya bisa disesuaikan.
“Ke depan saya akan ngomong ke teman-teman di lintas sektor. Bisa ke negara bahwa yang misalnya China tidak mempersyaratkan itu ya sudah. Kalau ekspor yang justru harus kita perketat kesepakatan di balai, nggak ada masalah hanya koordinasi aja,” ujarnya.
Dalam pertemuan itu juga dibahas potensi komoditas keratom. Abdul Kadir menyebut keratom memiliki nilai ekonomi tinggi dan bisa dikembangkan menjadi bahan baku obat.
“Keratom itu memang kalau saya pribadi, potensinya ekonomi di luar juga dijual mahal. Bisa dipertahankan dalam bentuk kalau misalnya itu dianggap ada kandungan farmasinya maka dia dibuat di industri misalnya obat. Saya sudah bicara sama BRIN, tinggal bergantian berbicara juga dengan Menteri Kesehatan,” katanya.
Selain menyerap aspirasi pengusaha eksportir, Abdul Kadir juga mensosialisaikan tujuan dibentuknya Badan Karantina agar memberikan pemahaman kepada masyarakat akan tugas Badan Karantina. (jkr)
Ribuan Warga Ramaikan Jalan Sehat Beregu, Wali Kota Khairul Apresiasi Antusiasme Peserta
TARAKAN – Lebih dari 9 ribu peserta memadati ruas jalan Kota Tarakan dalam kegiatan Jalan Sehat Beregu Kolaborasi, Minggu (30/8/2026).Ajang...
Read moreDetails
















Discussion about this post