TARAKAN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) menegaskan bahwa kehadiran mata uang Rupiah di wilayah perbatasan bukan sekadar urusan transaksi ekonomi, melainkan manifes nyata dari kedaulatan dan harga diri bangsa.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H, M.Hum, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setprov Kaltara, Safi’i, S.T, M.AP, saat melepas melepas Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 di Dermaga Kodaeral XIII, Mamburungan, Tarakan, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan strategis yang menyasar wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T) ini merupakan buah sinergi kokoh antara Bank Indonesia (BI) dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Menggunakan kapal perang KRI Ajak-653, ekspedisi tahun ini dijadwalkan berlangsung hingga 20 Juli 2026 mendatang.
Dalam sambutan yang dibacakan Safi’i, Gubernur Zainal Paliwang mengapresiasi penuh langkah kolaboratif ini. Ia menekankan bahwa ERB memiliki dimensi yang sangat strategis bagi wilayah Kaltara yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
“Ekspedisi Rupiah Berdaulat bukan sekadar agenda distribusi uang rupiah layak edar. Ini adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam menjangkau masyarakat hingga wilayah terdepan. Menjaga eksistensi Rupiah di perbatasan berarti menjaga martabat bangsa dan memperkuat persatuan,” tegas Safi’i saat membacakan pesan Gubernur.
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Bank Indonesia berkewajiban memastikan ketersediaan uang berkualitas di seluruh pelosok NKRI. Namun di Kaltara, peran Rupiah berlipat ganda sebagai benteng pertahanan non-militer untuk menangkal dominasi mata uang asing di garis batas negara.
Ada hal menarik dalam gelaran ERB kali ini. Kehadiran KRI Ajak-653 dan personel TNI AL menjadi simbol kuat bahwa negara tidak pernah absen dalam melindungi segenap wilayahnya, baik dari sisi keamanan fisik maupun ketahanan ekonomi.
Pemprov Kaltara melihat kolaborasi ini sebagai perpaduan dua elemen penting. Di mana TNI AL memastikan pertahanan, keamanan, dan kesiapan teritorial di wilayah perairan dan pulau terluar tetap terjaga dari segala ancaman.
Sementara Bank Indonesia menjaga kedaulatan ekonomi dengan memastikan masyarakat perbatasan mendapatkan hak yang sama atas akses uang layak edar serta pemahaman cinta Rupiah.
“Wilayah Kaltara bukan hanya benteng pertahanan, tetapi juga kawasan strategis pertumbuhan ekonomi nasional. Kehadiran Rupiah di Bumi Benuanta adalah bukti bahwa negara hadir memberikan pelayanan terbaik, menjaga stabilitas ekonomi, dan meneguhkan kedaulatan kita,” lanjut Safi’i.
Selama sepekan perjalanannya, Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 bersama KRI Ajak-653 dijadwalkan akan mengunjungi lima titik krusial di wilayah perbatasan dan kepulauan. Yaitu Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Teluk Sulaiman dan Pulau Derawan
Menutup sambutan Gubernur, Safi’i menyampaikan harapan agar misi mulia ini berjalan aman dan sukses, serta menjadi pemantik bagi penguatan sinergi lintas lembaga di masa depan.
“Semoga sinergi antara BI, TNI AL, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat kedaulatan ekonomi bangsa, memastikan Rupiah senantiasa hadir di setiap jengkal wilayah Indonesia,” pungkasnya. (jkr)
Tidak Sekedar Uang, Pemprov Kaltara Nilai Rupiah sebagai Benteng Kedaulatan dan Harga Diri Bangsa di Perbatasan
TARAKAN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) menegaskan bahwa kehadiran mata uang Rupiah di wilayah perbatasan bukan sekadar urusan...
Read moreDetails



















Discussion about this post