TARAKAN – Rupiah bukan sekadar alat tukar di atas meja kasir, ia adalah harga diri bangsa di garis depan wilayah perbatasan. Menyadari pentingnya hal tersebut, Bank Indonesia (BI) bekerja sama TNI Angkatan Laut kembali melaksanakan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026.
Kegiatan ini resmi di Dermaga Kodaeral XIII, Mamburungan, Tarakan, pada Selasa (14/7/2026).
Menggunakan kapal perang KRI Ajak-653, ekspedisi ke-12 di tahun 2026 ini membawa misi besar. Yaitu mendistribusikan uang layak edar (ULE) hasil cetak sempurna senilai Rp6 miliar ke lima pulau terluar, terdepan, dan terpencil (3T) di Kaltara dan sekitarnya. Yakni Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Teluk Sulaiman, dan Pulau Derawan. Misi ini dijadwalkan berlangsung selama sepekan, mulai 14 hingga 20 Juli 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan sekaligus Kepala Koordinator Wilayah BI Kalimantan, Haris Munandar, menegaskan bahwa mengedarkan Rupiah di Indonesia—negara kepulauan terbesar di dunia dengan 70% wilayah perairan—memiliki tantangan geografis yang luar biasa.
Kaltara sendiri memiliki 467 pulau dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, menjadikannya wilayah yang rentan terhadap penggunaan mata uang asing (blank spot).
“TNI Angkatan Laut berkepentingan menjaga kedaulatan seluruh wilayah NKRI dengan pertahanan, sementara Bank Indonesia berkepentingan menjaga kedaulatan NKRI dengan Rupiah. Ini adalah dua kepentingan yang sama dan segaris,” ujar Haris Munandar dalam sambutannya.
Haris menambahkan, Rupiah adalah identitas dan alat pemersatu bangsa yang lahir dari sejarah perjuangan. Jika di perbatasan kedaulatan Rupiah goyah, maka ketahanan nasional secara strategis ikut dipertaruhkan.
Haris menggarisbawahi tiga tantangan utama yang dihadapi BI dalam menjaga kualitas uang di masyarakat. Di antaranya Kondisi Geografis & Infrastruktur. Di mana ribuan pulau menciptakan keterbatasan jangkauan fisik bagi BI dan perbankan konvensional.
Selain itu literasi masyarakat. Di mana kebiasaan melipat, membasahi, dan men-straples uang memicu tingginya angka uang tidak layak edar (lusuh).
Yang terakhir adalah ancaman mata uang asing. Di mana potensi penggunaan mata uang negara tetangga sebagai alat pembayaran di wilayah perbatasan.
Melalui Clean Money Policy (Kebijakan Uang Layak Edar), ekspedisi ini akan menarik uang-uang lusuh di masyarakat dan menggantinya dengan pecahan uang baru edisi terbaru.
Berbeda dengan penyerahan bantuan biasa, Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 membawa lima cakupan kegiatan strategis sekaligus yang meliputi layanan kas keliling dengan menukar uang lusuh dengan uang baru pecahan kecil edisi terbaru sesuai kebutuhan warga lokal.
Selain itu, pemantauan dan ekonomi (Oversight). Yaitu memetakan potensi ekonomi daerah yang dikunjungi serta memastikan eksistensi rupiah tetap absolut.
Dilakukan juga edukasi “Cinta, Bangga Paham dan Rupiah. Di mana petugas melakukan sosialisasi literasi keuangan kepada masyarakat dan siswa-siswi sekolah.
Kegiatan ini juga menjadi wisata edukasi (ppen ship) dengan memberikan kesempatan bagi pelajar dan warga lokal untuk naik dan melihat langsung isi kapal perang KRI milik TNI AL.
Terakhir adalah asah kepemimpinan sSharing leadership). Yaitu sesi berbagi ilmu kepemimpinan dari Perwira KRI TNI AL kepada tim on-board Bank Indonesia untuk meningkatkan kompetensi personel.
Kolaborasi antara BI dan TNI AL bukanlah program seumur jagung. Sejak dirintis pada tahun 2012 hingga 2025 yang lalu, sinergi ini telah berhasil melaksanakan 150 kali kegiatan kas keliling 3T dengan total 766 pulau yang berhasil dikunjungi.
Memasuki tahun 2026, komitmen kedua lembaga ini semakin diperluas. BI dan TNI AL menyepakati target ambisius untuk menjangkau 19 provinsi dan mengunjungi 97 pulau di seluruh Indonesia.
Pelepasan ekspedisi di Tarakan ini ditutup dengan apresiasi mendalam dari Bank Indonesia kepada jajaran TNI AL dan Pemerintah Daerah di Kaltara, disertai doa bersama agar kapal yang membelah ombak perbatasan utara ini membawa manfaat nyata bagi kedaulatan ekonomi bangsa. (jkr)













Discussion about this post