TARAKAN – Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 59 Tarakan yang berlokasi di Kompleks LLK Tarakan telah berjalan selama 9 bulan. Kepala SRT 59 Tarakan Maria Aulia menyebut perubahan pada peserta didik sangat signifikan, mulai dari kepercayaan diri, akademik, hingga perilaku.
Hal itu juga ditunjukkan di hadapan tamu undangan pada acara Open House, Jumat (10/7/2026).
“Perubahannya sangat-sangat luar biasa ya oleh para peserta didik Sekolah Rakyat. Yang pertama, anak kami jauh lebih percaya diri,” ujar Maria Aulia.
Maria mengungkapkan, banyak kejutan dari kemampuan akademik anak. Selama ini potensi mereka tertutup karena masalah ekonomi keluarga.
“Banyak anak kami ternyata yang memiliki kemampuan akademik yang sangat baik, tapi memang selama ini tidak ketahuan karena tergerus oleh kemiskinan tadi,” katanya.
Selain akademik, perubahan perilaku juga terlihat jelas. Anak-anak kini lebih mampu mengontrol emosi, bersikap sopan kepada orang dewasa, dan menghargai perbedaan.
“Anak-anak sekarang sudah bisa mengontrol emosinya, bisa berperilaku jauh lebih sopan dan juga menghargai perbedaan. Itu yang paling penting sebenarnya,” ujarnya.
Maria menjelaskan, pola pendidikan di SRT 59 dimulai sejak bangun tidur pukul 04.00 WITA hingga tidur malam pukul 21.00 WITA. Semua aktivitas siswa dikawal.
“Kami melakukan assessment dulu untuk melihat apa yang dimiliki anak-anak dan apa yang mereka butuhkan. Lalu kami lengkapi, kemudian yang sudah mereka punya kita kembangkan,” jelasnya.
Pendampingan juga menyasar kesehatan dan gizi. Pihak sekolah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas terdekat untuk penanganan kesehatan siswa.
“Ada anak giginya berlubang kami bawa ke puskesmas untuk ditambal. Ada yang punya penyakit kulit kami konsultasikan ke dokter. Nutrisi mereka juga kami lengkapi,” katanya.
Untuk pengembangan bakat, sekolah mendatangkan guru ekstrakurikuler. Saat ini ada 9 ekstrakurikuler, di antaranya karate, menyanyi, food style, futsal, LKBB, seni gambar, dan Bahasa Inggris. Mengaji juga wajib untuk semua siswa beragama Islam.
“Latihan dilakukan setiap sore. Jadi untuk penampilan memang baik. Bahkan bahasa Korea juga kami ajarkan dibantu teknologi dan AI,” ungkapnya.
Saat ini, sekolah membina 63 siswa aktif yang terdiri dari 46 siswa SD (Kelas 1-5) dan 17 siswa SMP (Kelas 7-8). (jkr)


















Discussion about this post