TARAKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Tarakan memastikan isu temuan flu burung atau Avian Influenza pada ayam yang dijual di sejumlah pasar rakyat di Tarakan, tidak benar atau hoax.
Kabar ini sempat viral di media sosial pada Rabu (22/4/2026) hingga membuat masyarakat resah dan khawatir membeli ayam di pasar.
Kepala Dinkes Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti mengaku sampai saat ini belum ditemukan kasus flu burung diderita manusia.
Devi juga menegaskan surat yang beredar memang dikeluarkan Dinkes Tarakan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap kemungkinan adanya temuan virus flu burung.
Namun, surat tersebut hanya dikhususkan untuk kepala puskemas se-Tarakan. Bukan untuk konsumsi publik.
Devi membantah adanya imbauan larangan memakan ayam yang dibeli dari pasar. Menurutnya selama ayam tersebut sehat dan diproses dengan benar, dijamin aman dikonsumsi.
“Surat yang kami kirimkan itu ditujukan untuk ya kepala puskesmas sebagai bentuk kewaspadaan. Itu selalu kita lakukan kalau ada info-info, pasti kami sampaikan karena itu sebagai bentuk kewaspadaan teman-teman puskesmas dan mengedukasi masyarakat yang ada di wilayah kerjanya,” tegas Devi kepada awak media dalam konferensi pers di Kantor Dinkes Tarakan, Kamis (23/4/2026).
“Kami sampaikan juga bahwa flu burung di Tarakan itu tidak pernah ditemukan kasusnya pada manusia, juga di Indonesia,” sambung Devi.
“Makanya pernyataan bahwa tidak boleh makan daging ayam, tidak boleh membeli ayam, itu kan bisa merugikan pedagang yang berjualan. Kami sampaikan bahwa tidak pernah ada larangan untuk makan daging ayam, yang penting sehat, kan tahu yang memilih ayam yang baik seperti apa, kemudian bagaimana memasaknya, diharapkan dimasak sampai matang,” tegas Devi.
Devi mengimbau masyarakat tidak hanya waspada terhadap flu burung, tapi pada semua jenis penyakit. Karena itu, makanan yang dikonsumsi harus melalui proses yang benar untuk memastikan virus mati.
Di sisi lain, Devi menyayangkan beredarnya surat yang ditujukan kepada kepala puskesmas, viral di media sosial. Devi menduga kemungkinan ada oknum. Namun ia memastikan bukan di Dinas Kesehatan Tarakan.
Devi menyayangkan informasi yang disebar disertai kalimat yang meresahkan masyarakat. Padahal tidak memiliki kapasitas memberikan informasi.
Menurut Devi, surat tersebut sebenarnya hanya ditujukan kepada kepala puskesmas yang hanya diakses di aplikasi khusus Srikandi, bukan untuk konsumsi masyarakat. Karena dikhawatirkan jika salah persepsi dapat mengakibatkan keresahan.
Devi mengaku dampak kejadian ini, pihaknya banyak menerima pertanyaan dari masyarakat. Ini menunjukkan bahwa informasi tersebut telah membuat warga resah.
Karena itu, Devi berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi jajarannya agar hati-hati dalam menyebarkan informasi. Sebab imbasnya bisa menimbulkan keresahan di tengah masyarakat
Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Tarakan, juga membenarkan tidak ditemukan kasus flu burung dalam beberapa tahun terakhir.
Pernyataan ini didasarkan hasil pengujian sampel yang dilakukan tiga tahun terakhir. Pada 2024,ada 87 sampel yang diuji, tidak ditemukan kasus flu burung. Demikian juga pada 2025, dari 56 sampling yang diuji, semua negatif
“Kalau di kami, menurut data yang ada, pada dua tiga tahun terakhir untuk pengujian sampling di Tarakan itu memang flu burung tidak ditemukan,” ujar Paulus.
Paulus merasa kaget mendengar adanya isi temuan kasus flu burung. Padahal pihaknya rutin mengambil sampel setiap tahun terhadap ayam yang dijual di pasar.
Paulus mengaku dampak informasi keliru itu, pihaknya banyak menerima pertanyaan baik dari masarakat maupun instansi di Tarakan maupun kabupaten lainnya di Kaltara.
Meski demikian, dengan isu itu, pihaknya lebih waspada lagi dan telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah munculnya flu burung.
Di antaranya melalukan pembinaan ke peternak dan penjual ayam akan pentingnya menjaga kebersihan kandang dan ayam.
Selain itu, pihaknya juga turun langsung membersihkan kios penjualan daging ayam di pasar rakyat. Karena lingkungan sangat mempengaruhi kesehatan ayam.
Kemudian gencar melakukan edukasi bagaimana mengelola penjualan yang sesuai dengan standar aman, sehat dan halal. (jkr)













Discussion about this post