TARAKAN – Festival budaya tahunan kebanggaan masyarakat Bumi Paguntaka, Iraw Tengkayu, bersiap kembali menyapa. Di balik kemegahan adat penurunan Padaw Tuju Dulung yang dinanti-nanti, helatan ke XV ini membawa narasi baru yang sarat siasat. Yaitu mempertahankan kualitas di tengah badai efisiensi anggaran.
Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) memastikan bahwa persiapan telah menyentuh angka 50 persen.
Penataan lokasi, latihan tari, hingga pembukaan pendaftaran pawai sudah berjalan demi mengejar target kick-off pada awal Juli mendatang.
Namun, ada yang berbeda tahun ini. Jika biasanya Tarakan bertabur bintang atau dikemas masif, Iraw Tengkayu kali ini memilih jalan “membumi” tanpa kehilangan taji.
Wakil Sekretaris Panitia, Iraw Tengkayu 15, M. Zainuddin, mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi saat ini menuntut panitia untuk memutar otak. Anggaran yang biasanya berkisar di angka Rp1 miliar hingga Rp2 miliar, kini harus disesuaikan demi semangat efisiensi.
Dampaknya terasa pada pengurangan teknis. Jumlah penari kolosal yang biasanya mencapai 250 orang, kini dipangkas menjadi 150 penari. Begitu pula dengan restrukturisasi jumlah panitia dan personel pengamanan.
Meski demikian, Zainuddin menjamin hal ini tidak akan menurunkan kesejahteraan para pengisi acara.
“Penari dikurangi justru agar honor mereka tetap terjaga sesuai standar, tidak berkurang. Kami ingin azas manfaatnya langsung dirasakan oleh pelaku seni lokal,” ujar Zainuddin.
Langkah hemat ini juga terlihat dari keputusan untuk tidak mendatangkan artis ibu kota menggunakan dana kementerian. Kementerian Pariwisata memberikan syarat ketat agar stimulan dana dimaksimalkan untuk potensi daerah.
“Kecuali ada sponsor yang masuk dalam waktu dekat, panggung hiburan rakyat pada 5 Juli malam nanti akan murni menjadi panggungnya seniman lokal kita,” tambahnya.
Kendati dikepung keterbatasan anggaran, bahkan diklaim sebagai salah satu yang terkecil dibanding kabupaten/kota lain di Kalimantan Utara, Iraw Tengkayu justru mengukuhkan prestasi langka.
Festival ini berhasil lolos kurasi independen dan masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) untuk kelima kalinya.
“Bagi kabupaten/kota lain, masuk tiga kali saja sudah berat. Sederhana saja, kurator independen melihat festival kita memberikan dampak ekonomi riil bagi masyarakat, pelestarian budayanya kuat, dan manajemen pengelolaannya bagus,” kata Zainuddin bangga.
Perubahan mencolok lainnya adalah pergeseran waktu pelaksanaan. Jika bertahun-tahun lalu Iraw Tengkayu identik dengan bulan Desember atau Oktober, tahun ini prosesi puncak digeser ke bulan Juli.
Ada tiga alasan strategis di balik keputusan ini. Selama ini, bulan Oktober menjadi bulan sibuk di mana seluruh kabupaten/kota di Kaltara menggelar hari jadi dan festival masing-masing. Akibatnya, kunjungan antar-daerah saling terhambat.
Dengan maju ke Juli, Pemkot Tarakan bisa mengundang kabupaten lain (seperti Malinau) dan bergantian bertamu saat daerah lain menggelar acara.
Selain itu, Juli dipilih agar anak-anak sekolah dapat terlibat aktif dan menyaksikan langsung pelestarian budaya ini.
Festival ini akan langsung berkelanjutan dengan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) ke-6 pada bulan Agustus untuk menyambut HUT RI.
Perubahan tanggal ini pun dipastikan tidak mengganggu status KEN, karena koordinasi dan revisi agenda telah disetujui oleh pemerintah pusat. (jkr)
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan, berikut adalah lini masa rangkaian acara:
4 Juli: Mengarak Padaw Tuju Dulung, dirangkaikan dengan lomba kendaraan hias (Roda 4), sepeda hias, dan pawai pejalan kaki yang mengusung tema kebudayaan suku bangsa serta isu nasional.
5 Juli (Pagi): Pentas Seni Budaya Nusantara di Kawasan Berkampung.
5 Juli (Pukul 14.00 WITA): Prosesi puncak Iraw Tengkayu













Discussion about this post