TARAKAN – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Tarakan yang telah dilaksanakan beberapa bulan lalu, melahirkan sebuah potret yang unik sekaligus menantang.
Tarakan sukses mencatatkan prestasi membanggakan dengan menembus angka di atas rata-rata nasional —bahkan hampir menyamai hingga mengungguli capaian provinsi besar seperti Jawa Barat.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan, Tamrin Toha, mengungkapkan bahwa secara umum posisi Tarakan dalam pemetaan mutu pendidikan nasional sangatlah bersaing.
Saat rata-rata kemampuan literasi bahasa Indonesia secara nasional berada di angka 60-an, Tarakan mampu melaju lebih kencang, bahkan menyentuh angka 70-an pada sekolah-sekolah dengan capaian tertinggi.
Namun, prestasi itu tidak sebanding di mata pelajaran Matematika. Rata-rata nilai siswa Tarakan masih bertengger di kisaran angka 42 – 43.
“Ini memang menjadi problem. Apalagi matematika yang masih kisaran 40-an. Ini masih merah rapornya,” ujar Tamrin Toha saat dikonfirmasi mengenai evaluasi hasil TKA, Senin (15/6/2026).
Menyalahkan siswa, menurut Tamrin Toha, bukanlah jalan keluar. Kunci utama dari keberhasilan akademis siswa berada di tangan para pendidik.
Menurutnya, kualitas transfer pengetahuan sangat bergantung pada seberapa kreatif dan adaptifnya guru dalam menyajikan materi pembelajaran.
“Kodenya itu dihitung dari kemampuan gurunya. Kalau kita ingin meningkatkan kualitas pembelajaran siswa, maka yang pertama kali diintervensi dan ditingkatkan mutunya adalah guru itu sendiri,” tegas Tamrin.
Selain itu, perlu mengoptimalkan peran sekolah unggulan sebagai sekolah rujukan.Konsepnya bukan untuk menciptakan eksklusivitas, melainkan membangun ekosistem saling bantu.
Sekolah rujukan yang memiliki fasilitas lengkap dan guru-guru hebat akan menjadi pusat pelatihan (hub) bagi sekolah-sekolah di sekitarnya. (*)













Discussion about this post