TARAKAN – Balai Karantina Kalimantan Utara mengevaluasi sebulan pelaksanaan ekspor komoditi unggulan daerah seperti hasil perikanan dan kelautan melalui jalur udara.
Dari hasil evaluasi, Kepala Karantina Kaltara Ichi Langlang Buana menyebut baru sekitar 5% komoditi yang tercatat resmi, sedangkan 95% lainnya masih masuk underground economy atau lewat jalur belakang.
“Dari data produksi yang kami hitung, yang terlaporkan resmi itu kurang lebih hanya 5%. Artinya 95% ini yang istilahnya underground economy. Luar biasa sebenarnya, namun tidak tercatat,” kata Ichi dalam bincang santai bersama stakeholder terkait dan wartawan, Kamis (4/6/2026).
Menurut Ichi, ekspor langsung dari Tarakan ke luar negeri via udara, seperti penerbangan langsung ke Hong Kong, terbukti lebih cepat dan lebih murah dibanding jalur laut.
Karantina bersama Bea Cukai dan pihak Bandar Udara Juwata Tarakan bahkan memangkas Standar Operasional Prosedur (SOP) hingga proses ekspor bisa selesai kurang dari 1 jam.
“Kalau mau benar-benar sesuai, kita kirim barang tapi alamatnya di fasilitasi eksportir, kita lakukan video inspection. Rata-rata kami bisa 20 menit untuk ekspor. Ini produk hidup, perlu kecepatan,” ujar Ichi.
Ichi menegaskan pihaknya tidak ingin mematikan ekspor laut, melainkan memberi opsi jalur lain yang lebih efisien. Jika ekspor langsung berjalan, harga di tingkat nelayan diprediksi ikut naik.
Sementara itu, terkait dokumen Surat Keterangan Perikanan (SKP), Ichi menjelaskan SKP belum menjadi dokumen wajib dalam proses ekspor. Karantina hanya mensyaratkan dokumen yang diminta negara tujuan.
“Ketika negara tujuan tidak mensyaratkan, untuk apa kita persyaratkan? Kalau kita persyaratkan semua, padahal negara tujuan tidak minta, ya jadi kendala,” tegasnya.
Ia juga meminta maaf kepada salah satu eksportir, karena sebelumnya terjadi miskomunikasi soal kelengkapan dokumen. Namun ia menekankan, kewenangan tiap instansi berbeda dan perlu kolaborasi.
Ajak Tinggalkan Ego Sektoral
Ichi mengingatkan, jika Tarakan tidak segera membenahi ekosistem ekspor, peluang bisa diambil bandara lain yang lebih siap. Karena itu, semua pihak diminta tidak melihat dari kacamata aturan sektoral masing-masing.
“Kita coba buka. Kami di border sudah potong tiga langkah. Aturan sama-sama direlaksasi supaya jadi insentif bagi pelaku usaha. Nanti begitu jalan, ada namanya ekosistem logistik,” katanya.
Ia juga membuka instalasi karantina untuk pelaku usaha yang ingin melakukan penanganan hingga packing ulang. Konsultasi ke pusat difasilitasi gratis.
“Kenapa sambil jalan? Kalau tidak sambil jalan, kita terlalu cepat menutup yang di backdoor, padahal yang di backdoor jalan terus. Kenapa kita tidak buka sedikit relaksasi?” tutup Ichi.
Evaluasi ini diharapkan menjadi pijakan untuk memperbaiki layanan ekspor udara Kaltara agar lebih banyak komoditi tercatat resmi dan memberi nilai tambah bagi daerah. (jkr)



















Discussion about this post