TARAKAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menggelar Benuanta Investment and Economic Summit di Kayan Multifunction Hall Hotel Tarakan Plaza, Jumat (21/2011/2025).
Acara yang dirangkai dengan diskusi panel ini dibuka Wakil Gubernur Kaltara, Ingkong Ala, dengan menghadirkan berbagai narasumber.
Di antaranya Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang akepatuhan Pajak, Yon Arsal, Procipal Adviser, Revenue (Police and Administration) At Proses, Rubino Sugana dan Direktur Politeknik Bisnis Kaltara, Dr. Ana Sriekaningsih, S.E., S.Th., M.M.
Acara ini mengusung tema “Epicentrum Pertumbuhan Baru Menakar Peran Hilirisasi, Industrialisasi dan Konektivitas Global terhadap Perekonomian Daerah”.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik dalam diskusi memaparkan bahwa kondisi ekonomi global sebenarnya tidak terlalu baik.
“Kalau dilihat di sini kecenderungan beberapa negara bahkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menunjukkan perlambatan perekonomian. Pertumbuhan ekonomi di dunia di 2025 diperkirakan turun dari 3,3% menjadi 3,1% kan sebagian besar negara merevisi melambat pertumbuhannya,” ujar Hasiando.
Kondisi ini tentu ada sebabnya. Mulai dari kondisi Amerika Serikat di mana banyak fasilitas pemerintahan yang tidak bekerja optimal. Ditambah lagi perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina menyebabkan potensi demand, termasuk Indonesia, mengalami perlambatan.
Kepastian ekonomi global juga tercermin dari beberapa indeks ketidakpastian dan polabilitas global. Menurut Hasiando, memang ada tren menurun. Akan tetapi jika melihat history dari tahun 2021 sampai sekarang masih di level atas.
Meski demikian kondisi perekonomian Indonesia di tengah tantangan ekonomi global masih cukup kuat.
“Ekonomi kita di triwulan triwulan III tumbuh 5,4% melambat dibandingkan triwulan II tahun, 2025 yang mana ditopang oleh kinerja ekspor dan konsumsi pemerintah yang meningkat di triwulan III” ungkap Hasiando.
Beberapa sumber-sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia di antaranya seperti di Kalimantan mampu menyumbangkan 8,02%. Sedangkan porsi ekonomi utama masih berasal dari Jawa dan Sumatera.
Menurutnya, tantangan ekonomi nasional saat ini adalah bagaimana menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di sisi lain stabilitas inflasi sebenarnya terkendali.
Akan tetapi menurut Hasiando, ada satu tantangan untuk investasi. AYaitu inflasi volitale food. Di mana ada beberapa daerah yang inflasi volitale foodnya di atas 5%, terutama wilayah Sumatera. Sementara wilayah Kalimantan stabilitas harganya relatif terkendali.
Menurutnya, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah pusat melalui kementerian terkait maupun pemerintah daerah agar pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 bisa bisa meningkat. Terlebih target Presiden Prabowo Subianto untuk perekonomian Indonesia tumbuh 8% pada 2028.
“Itu menjadi tantangan tersendiri bagi kita semua,” tutur Hasiando.
Ada pun kebijakan yang diambil Bank Indonesia yaitu Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan BI Ret tetap 4,65℅. Di mana kebijakan BI ada dua. Yaitu menjaga stabilitas, baiknya nilai tukar, harga dan sistem keuangan. Sedangkan kedua adalah upaya mendukung pertumbuhan ekonomi. (jkr)
Serah Terima Jabatan Kasat Lantas Polres Tarakan, Wujud Penyegaran Organisasi dan Peningkatan Kinerja
TARAKAN - Polres Tarakan menggelar serah Terima jabatan Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) pada Seabtu (28/2/2026). Acara yang berlangsung...
Read moreDetails



















Discussion about this post