TARAKAN – Penderita penyakit tuberkulosis atau TBC bisa mempengaruhi perkembangan seseorang hingga mengakibatkan kematian
Hal itu disampaikan Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes saat memberikan pengarahan pada sosialisasi, advokasi dan penggalangan komitmen pembentukan Kelurahan Siaga TBC di Gedung Serbaguna Kantor Wali Kota Tarakan, Senin (13/4/2026).
Sebagai orang kesehatan, Khairul menyadari betul betapa bahayanya penyakit TBC. Di antaranya, bisa mempengaruhi perkembangan seseorang. Karena itu, Pemkot Tarakan memberi perhatian serius terhadap penyakit iini.
“Kenapa TBC menjadi perhatian kita? Karena ini penderita TBC biasanya kalau terkena, pasti tidak produktif. Apalagi kalau misalnya kenanya mulai dari bayi, salah satu penyebab terjadinya gizi buruk pada bayi biasanya karena TBC dan kalau terjadi gizi buruk pada usia dini semua perkembangannya akan terganggu yang disebut seperti sekarang ini stunting dan lain-lain yang mempengaruhi perkembangan otak,” ujar Khairul.
Selain itu, mantan Kepala Dinas Kesehatan ini menilai, penyakit TBC juga bisa menyebabkan kematian meski secara perlahan. Angka kematian penderita penyakit TBC pun cukup tinggi. Ini disebabkan kebanyakan penderita tidak rutin melakukan pengobatan.
Sedangkan untuk bisa mencapai kesembuhan, dibutuhkan keseriusan dari penderita untuk rutin meminum obat selama 6 bulan. Jangka waktu pengobatan itu bisa bertambah 3 bulan apabila penderita, belum sembuh.
“Kalau orang diobati dia tidak makan obat dibiarkan saja penderita TBC, itu akan mati dalam 2 tahun dan mungkin dia akan menularkan kepada orang lain,” tutur Wali Kota.
Selama menderita TBC, penderita tersebut juga berpotensi menularkan kepada orang lain. Sehingga bisa berkembang lebih banyak.
Karena itu, Khairul menegaskan Pemkot Tarakan memberikan perhatian serius terhadap penanggulangan TBC. Di antaranya dengan membentuk Kelurahan Siaga TBC agar bisa mengurangi penularannya. (*)


















Discussion about this post