TARAKAN – Krisis air baku kembali melanda Kota Tarakan. Perumda Air Minum Tirta Alam terpaksa memberlakukan jadwal gilir air bersih, dan kali ini yang paling terdampak adalah pelanggan di Kecamatan Tarakan Tengah.
Penggiliran tersebut dilakukan setelah debit Embung Binalatung anjlok drastis dampak masih minimnya curah hujan.
Direktur Perumda Tirta Alam Tarakan, Iwan Setiawan mengatakan, level air di Embung Binalatung sudah di angka minus 274 cm. Pada posisi itu, air sudah tidak dapat disedot lagi.
“Balai Wilayah Sungai Kalimantan V sore tadi resmi menyetop pengambilan. Embung tidak boleh sampai kering total, minimal harus menyisakan 48 ribu kubik air. Kalau dipaksakan, struktur bendungannya bisa rusak. Lubang hisapnya juga sudah tidak terjangkau air,” jelas Iwan, Kamis (8/10/2026).
Dampaknya, produksi air di Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang mengandalkan Binalatung ikut turun. Alhasil, distribusi ke pelanggan yang dialiri IPA Kampung Satu, harus merasakan jadwal pendistribusian air bergilir. Yang paling terdampak di Tarakan Tengah. Sedangkan tiga kecamatan lainnya masih relatif aman.
Untuk Tarakan Barat, Utara dan sebagian Timur pasokan masih normal. Embung Rawasari sudah mulai terisi, dari sebelumnya minus 2 meter kini tinggal minus 18 cm. Sementara Embung Indulung surplus 14 cm dan Embung Bengawan surplus 10 cm.
Meski harus gilir, Iwan menyebut kondisi tahun ini jauh lebih baik dibanding kemarau tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu baru kemarau satu bulan, air sudah mati total. Sekarang sudah hampir tiga bulan kemarau, kita masih bisa mengalirkan air dua hari sekali. Ini terbantu pasokan dari Embung Indulung yang masih mengirim 170 liter per detik ke IPA Kampung Satu,” ungkapnya.
Ia mengimbau warga Tarakan Tengah untuk lebih bijak menggunakan air dan menyiapkan tampungan saat jadwal air mengalir tiba. Pasalnya, BMKG memprediksi kemarau masih akan bertahan hingga akhir Oktober.
“Artinya masih ada sekitar 20 hari lagi kita harus gilir. Hujan yang turun beberapa hari terakhir ini hanya lima menit dan tidak merata, belum cukup untuk mengisi Binalatung,” tambahnya.
Untuk solusi jangka panjang, Tirta Alam telah menyiapkan penambahan kapasitas pompa di Embung Indulung tahun depan. Saat ini pipa eksisting berdiameter 630 mm dan 560 mm mampu menyuplai 250 liter per detik. Nantinya akan ditambah 300 liter per detik, sehingga total kapasitas menjadi 500 liter per detik menuju IPA Kampung Satu.
Rencana tersebut, kata Iwan, sudah mendapatkan lampu hijau dari Wali Kota Tarakan. Diharapkan, saat kemarau panjang terulang, dampak krisis air tidak separah sekarang. (jkr)












Discussion about this post