TARAKAN – Inflasi Kalimantan Utara (Kaltara) pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 2,17 persen secara year-on-year (yoy). Angka tersebut masih berada di dalam rentang target inflasi nasional 2,5 persen plus minus 1.
Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara, Agus Taufik, saat pemaparan di Tarakan, Rabu (2/9/2026).
“Angka inflasi kita 2,17 persen year-on-year. Artinya masih berada di rentang target. Target pemerintah menetapkan 2,5 plus minus 1, artinya berada di rentang 1,5 sampai 3,5 persen,” ujar Agus.
Menurutnya, inflasi Kaltara secara umum terjaga. Jika dilihat berdasarkan kota, inflasi terendah tercatat di Nunukan dengan 1,28 persen (yoy). Sementara tertinggi di Tarakan 2,91 (yoy).
BI Kaltara mencatat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai ke depan, salah satunya kenaikan harga BBM yang mulai berlaku 1 September 2026.
Selain itu, Kaltara masih berstatus daerah defisit pangan sehingga ketergantungan pasokan dari daerah lain menjadi tantangan. Hal ini berpotensi menekan harga jika tidak diantisipasi.
“Ketergantungan pasokan dari daerah lain menjadi salah satu isu yang barangkali menjadi seluruh titik pembahasan dalam kerangka TPID,” jelasnya.
Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama TPID Kaltara mendorong sejumlah strategi 4K. Meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi.
Program yang dijalankan antara lain Gerakan Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah, serta Gerakan Pangan Sejahtera.
“Kalau sekarang kita ingin PIMS, gerakan pangan, gerakan kerja sama, mulai edukasi pangan sejahtera. Itu menjadi salah satu program kami bagaimana kita bersama teman-teman juga di pusat melalui strategi 4K,” ungkap Agus.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga ekspektasi masyarakat agar tidak terjadi panic buying yang dapat memicu kenaikan harga.
“Kalau bicara edukasi, kadang-kadang kan kita bicara mengenai ekspektasi seseorang. Gimana agar ekspektasi ini terjaga. Karena kalau sudah ada ketergantungan pasokan, ada kecenderungan untuk panic buying,” pungkasnya.
BI Kaltara bersama pemerintah daerah berkomitmen terus memantau perkembangan harga agar inflasi tetap terjaga hingga akhir 2026. (jkr)












Discussion about this post