BEKASI — Kontingen Kalimantan Utara (Kaltara) mencatatkan hasil positif pada ajang Indonesia Muaythai Championship (IMC) 2026 yang berlangsung di GOR Abdu Rosyad, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Menurunkan 19 atlet, tim Muaythai Kaltara sukses membawa pulang total 13 medali, yang terdiri atas 1 emas, 2 perak, dan 10 perunggu.
Satu-satunya medali emas untuk Kaltara disumbangkan oleh Nur Hidayah yang turun di kelas 75 kg putri. Sementara itu, dua medali perak masing-masing diraih oleh Jasper Javier Kurniadi (kelas 30 kg putra) dan Firdaus Yuan Darussalam (kelas 57 kg putra).
Ketua Harian Muaythai Indonesia (MI) Kaltara, Hendra Radianto, mengungkapkan rasa puasnya atas capaian para atlet. Menurutnya, partisipasi dalam kejuaraan yang diikuti sekitar 600 atlet se-Indonesia ini merupakan langkah penting untuk mengukur peta kekuatan sebelum melangkah ke Kualifikasi PON maupun PON Beladiri mendatang.
“Secara pribadi saya sangat puas. Dari 19 atlet yang kita bawa, target utamanya adalah mengukur sejauh mana peluang kita di ajang nasional. Atlet yang belum dapat medali pun gugurnya di perempat final, artinya hanya selangkah lagi menuju semifinal,” ujar Hendra.
Persaingan ketat mewarnai gelaran nasional ini. Hendra membeberkan bahwa setiap kelas dihuni minimal 8 hingga 12 atlet dari berbagai daerah.
Tingginya intensitas pertarungan bahkan membuat sejumlah atlet mengalami cedera fisik dan membutuhkan penanganan medis intensif di lokasi.
“Pertarungannya sangat keras. Atlet kita ada yang ditandu dan butuh bantuan oksigen. Tapi penanganan dari tim medis dan dokter sangat cepat dan tanggap,” tambahnya.
Meski mengapresiasi kerja keras atlet dan jajaran pelatih di bawah asuhan Coach Ricky Asril, Hendra menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh tetap harus dilakukan.
Menurutnya, daerah-daerah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta masih menjadi tolok ukur utama nasional yang memiliki kedalaman skuad serta sistem pembinaan yang matang.
Selain evaluasi teknis, Hendra menyoroti pentingnya kesinambungan program pembinaan serta kepastian anggaran. Ia mengkritik pola pembinaan olahraga di daerah yang kerap terhenti seusai gelaran ajang seperti Porprov.
“Pembinaan itu tidak boleh setengah-setengah atau sekadar habis Porprov lalu bubar. Harus ada pemusatan latihan yang berkelanjutan dan berjenjang ke ajang yang lebih tinggi, seperti BK PON. Kalau hanya euforia di Porprov tanpa ada kelanjutan ke level nasional, itu hanya membuang-buang anggaran,” tegas Hendra.
Pria yang juga membidangi beberapa cabang olahraga lain di Kaltara ini menambahkan bahwa penataan organisasi dan efisiensi pendanaan menjadi prioritas utama agar pembinaan atlet tidak mengandalkan satu sumber saja, melainkan aktif mencari alternatif pendanaan lain demi kelangsungan prestasi olahraga Kalimantan Utara. (jkr)












Discussion about this post