TARAKAN – “Kamu masih sering ketemu Pak Haji Pai?” Tanya seorang kawan. “Jarang!” Jawab saya.
Pertanyaan seperti itu kerap saya dapati. Terutama dari kawan yang mengetahui kedekatan saya dengan H. Udin Hianggio.
Ia tidak sekadar politisi kawakan. Mantan Ketua DPRD dua periode, Wali Kota kedua Tarakan atau Wakil Gubernur Kaltara pertama, H. Udin adalah seorang legenda. Pejuang moralis, panutan sekaligus tokoh kontroversial.
Dia bergerak lincah menundukkan lawan-lawan politiknya. Menjadi tempat belajar anak-anak muda. Motivator ulung dan orator yang andal.
Kelemahan H. Udin bukanlah harta, tahta wanita atau iming-iming suap. Tidak ada toleransi untuk korupsi. Dia kerja keras menjaga integritasnya. Menghalau godaan, memilih hidup sederhana, jauh dibandingkan koleganya. Tidak ragu menghukum anak buahnya yang terlibat korupsi setelah diingatkan berkali-kali.
Ia hanya kalah oleh waktu. Jam tangan yang terpasang di lengannya betul-betul menjadi aksesoris bukan pengingat. Begitu pula jam di layar handphone. Tidak ada gunanya. Selalu lupa waktu. Apalagi saat bermain domino atau catur. Bisa pagi berjumpa pagi.
Waktu istirahat lenyap. Wajahnya selalu terlihat kelelahan kurang tidur. Anda pasti tahu, itulah hobinya. Domino atau catur adalah obat penenang. Sarana penghiburan. Melupakan sejenak beban dipundak.
20 tahun lebih saya disebelahnya tidak pernah sanggup mengikuti ritme itu. Bagi saya, waktu istirahat telah tiba bertepatan dengan bidak catur disusun di atas meja. Atau kartu domino mulai dibagi.
Tapi tahukah Anda strategi politik H Udin yang dikenal taktis itu diasah di meja catur? Bukan di bangku sekolah. Atau buku-buku politik yang tebal itu.
Sederhana saja. Bergaulah dengan PION (rakyat). Siapkan BENTENG (loyalis) pertahanan kokoh. Kaderisasi KUDA (partai) yang lincah. Rekrut PELUNCUR (intelektual/birokrat) yang bertugas melakukan analisa fakta. Dan tunjuk MENTERI (ahli strategi) sebagai jenderal lapangan. Kuasai petak-petak strategis dan skak mat.
Simpel. Tidak banyak teori. Makanya H Udin dikenal memiliki gaya politik yang unik. Tahu kapan harus agresif menyerang dan bertahan dari serangan. Iu semua dibuktikan dengan jaringannya yang luas. Jangan pernah bicara jelek soal H Udin dimana saja. Tembok warung kopi pun bisa berbagi informasi ke beliau.
Itu terjadi secara alamiah. Sikapnya yang baik membuat orang-orang ingin melindunginya sesuai kemampuan mereka masing-masing. Saya banyak belajar soal itu.
Secara fisik memang saya jarang bertemu. Ada perasaan yang sulit saya jelaskan jika duduk disebelah beliau. Mungkin orang banyak menganggap saya seperti pepatah habis manis sepah dibuang. Sory bro. Pepatah itu tidak berlaku bagi saya.
H Udin tetap spesial. Saya sampai dijuluki Pai Hianggio. Anak Pertama atau anak angkat. Itu karena saya mengenalnya luar dalam. Mencintainya seperti Ayah saya sendiri. Saya pernah berada disisi beliau ketika menang besar atau posisi hancur lebur.
Keinginan saya cuma satu. Mengembalikan H Udin Hianggio ketengah-tengah keluarga yang berpuluh-puluh tahun beliau abaikan.
Bayangkan, sejak muda Ia sudah bekerja keras di PT Pelni. Waktunya habis bertarung di pelabuhan. Masuk dunia politik apalagi. 10 tahun menjadi ketua DPRD Kota nyaris rumah hanya jadi tempat persinggahan sementara. Begitu pula saat menjadi walikota, makan bersama keluar di meja makan adalah barang mewah. Apalagi waktu menjabat Wagub, beliau menetap di Tanjung Selor.
Untung saja Ovan, Nani dan Amah adalah anak-anak yang kuat dan mandiri. Mereka memilih mengalah. Bapaknya sedang fokus memberikan perhatian kepada ribuan keluarga tidak beruntung di luar sana.
Jangan disebut pengorbanan Ibu Haji. Tuh, selalu saja ingin menetes air mata ini kalau membayangkan kesabaran Ibu Haji. Dia secara sadar mengikhlaskan suaminya bukan mutlak miliknya sendiri. Pengorbanannya soal perhatian, waktu berduaan atau kesepian yang mendalam tidak bisa dikompensasikan dengan apapun.
Betul istilah dibelakang laki-laki yang tangguh, pasti ada wanita yang sabar. Itulah Bu Haji. Kalem, tenang selalu mengalah. Kemewahan baginya bukan tas branded. Atau pelesiran keluar negeri. Tapi yang bikin dia bahagia adalah bisa memasakkan ikan bandeng pedas dan sambel dabu-dabu untuk sang suami.
Makanya, saya memilih untuk memendam perasaan ingin berjumpa itu dalam-dalam. Biarlah waktu bersama keluarga yang hilang dulu kembali hadir di rumah hijau. Apalagi kesehatan Pak Haji tidak sebugar lima tahun lalu. Sudahlah cukup Pak Haji melewatkan anak-anaknya tumbuh besar. Kini Ia tinggal menyaksikan cucu-cucunya beranjak dewasa. Sebagai pengganti waktu yang hilang dialami Bapak Ibunya.
Pak Haji selamat ulang tahun ya. Semalam saya mimpi bapak. Tersenyum lebar tanpa bercakap-cakap. Bagaikan pepatah. Jauh Dimata Dekat di Hati. (pai)



















Discussion about this post