LIAGU – Dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah Sedunia 2026, Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni mengunjungi lokasi rehabilitasi mangrove program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) di Desa Liagu, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).
Mengusung Tema “Rawat Tradisi, Lahan Basah Lestari”, Kementerian Kehutanan berkomitmen untuk melestarikan rehabilitasi mangrove seiring dengan tradisi masyarakat setempat.
“Kerusakan hutan mangrove akibat aktivitas manusia telah banyak kita temui. Perambahan kayu mangrove, alih fungsi kawasan untuk penggunaan lahan budidaya, permukiman, perindustrian dan sebagainya harus diimbangi dengan penambahan tutupan hutan dan lahan mangrove melalui kegiatan Rehabilitasi Mangrove”, tegas menhut.
Dalam pelaksanaan program M4CR, masyarakat terlibat aktif dalam rehabilitasi mangrove, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga pengembangan usaha masyarakat.
Di Desa Liagu, pola tanam silvofishery diterapkan. Yaitu sistem budidaya perikanan pesisir berkelanjutan yang memadukan usaha budidaya tambak, seperti udang, ikan, kepiting dengan konservasi hutan mangrove.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan, Dyah Murtiningsih, menekankan pentingnya mangrove sebagai barrier dari suatu tambak.
Dalam pengelolaan tambak, menjaga keseimbangan ekologi harus tetap diutamakan guna meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil tambak.
Partisipasi masyarakat juga terlihat dari keterlibatan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Mangrove Guardian.
Ketua Pokmas, Pak Alimudin, menyampaikan bahwa dirinya baru mulai mengikuti penanaman mangrove tahun ini setelah mendengar pengalaman positif sesama petambak. Ia berharap produktivitas tambaknya meningkat dan menegaskan komitmennya untuk menjaga mangrove demi keberlanjutan manfaat bagi masyarakat.
Hingga tahun 2025, capaian rehabilitasi mangrove M4CR di Provinsi Kalimantan Utara seluas 6.543 hektar. Secara nasional, Program M4CR dilaksanakan di empat provinsi prioritas, yaitu Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Kaltara.
Selanjutnya melalui upaya penguatan pelaksanaan padiatapa sebagai bentuk persetujuan masyarakat, program ini diharapkan dapat mencapai target rehabilitasi hingga 27.634 hektar sampai tahun 2027.
Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026 di Kaltara diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga ekosistem lahan basah, meningkatkan ketahanan pesisir, serta mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.



















Discussion about this post