TARAKAN – Era digitalisasi membuat penyebaran informasi begitu cepat. Siapa pun bisa menjadi netizen dengan memviralkan melalui media sosial.
Kekhawatiran muncul kala informasi yang disebar tidak akurat dan tidak terkonformisasi kepada narasumber yang berkompeten. Sehingga bisa memicu disinformasi yang berakibat menurunnya kepercayaan publik kepada media hingga potensi memecah belah persatuan bangsa.
Berangkat dari persoalan itu, Menara Institut menggelar diskusi santai yang dikemas dalam kegiatan bertajuk “Coffee Talk” di Cafe Input, Jumat (30/1/2026).
Mengusung tema “Media, influencer dan Kepercayaan Publik: Antara Etika, Viral dan Tanggung Jawab”, diskusi ini menghadirkan Kabid Humas Polda Kaltara, Kombes Pol Kombes Slamet Wahyudi dan Kabid Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) DKISP Kaltara, Jufri sebagai narasumber.
Menara Institut mengundang sejumlah influencer dan pegiat media sosial yang telah memiliki ribuan pengikut.
Ketua Menara Institut, Andre Aristyan mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi antara pelaku media dan influencer agar informasi yang disajikan tidak sekedar viral, namun ada tanggung jawab sosial, yaitu informasi yang valid, bukan berita hoax.
Sebab dikhawatirkan ada media atau influencer yang memposting informasi tidak akurat. Sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Harapannya agar tidak sekedar viral atau ramai kontennya, tapi bagaimana dari tujuan diskusi ini ada etika, ada tanggung jawab sosial. Ketika share informasi, benar atau tidak informasi yang disajikan, valid atau tidak datanya, itu tujuan utamanya. Biar pelaku media, influencer tidak asal share karena ini kan dampaknya bahaya juga untuk kondusifitas di masyarakat,” harap Andre.
Terutama, lanjut Andre, bagi influencer yang dinilai ada potensi menyebar informasi yang keliru karena jarang mengkonfirmasi kepada narasumber.
Di sisi lain, ada konsekwensi hukum yang mengancam influencer apabila menyebar informasi hoax. Karena bisa dijerat Undang-Undang ITE.
“Potensi-potensi hoax itu juga tidak menutup kemungkinan karena kevalidan sumber yang disiarkan juga kadang banyak orang asal ngeshare. Mereka bersuara saja orang bisa yakin karena banyak pengikutnya. Ini yang kita khawatirkan. Makanya melalui kegiatan ini kita mengedukasi teman-teman,” tutur Andre.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Kaltara, Kombes Pol Kombes Slamet Wahyudi menekankan pentingnya media atau influencer menyampaikan informasi yang tidak memprovokasi masyarakat agar terjaga suasana yang kondusif dan damai.
“Kami memberikan edukasi atau inspirasi sehingga masyarakat yang menjadi influencer tidak akan memprovokasi sehingga menjadikan masyarakat, damai.
Harapan senada juga disampaikan Kabid Informasi dan KoIa berharap influencer tidak sekedar mengejar viewer, akan tetapi dapat mengedukasi masyarakat melalui informasi yang dapat dipeetandinggungjawabkan kebenarannya.
“Kita melihat bahwa influencer ini menyampaikan berita yang sangat masif, mudah tersebar kemana-mana bahkan jangkauannya luas. Oleh karena itu diskominfo memandang bahwa perlunya kerjasama yang erat antara pemerintah dan teman-teman influencer dalam rangka diseminasi informasi di tengah-tengah masyarakat. Influencer ini kita harapkan jangan hanya mengejar yang namanya viral, tetapi ada tanggung jawab sosial, kita merupakan bagian dari masyarakat yang bisa mengedukasi,” harap Jufri. (jkr)



















Discussion about this post