TARAKAN – Untuk pertama kalinya Sekolah Lansia Nusantara Ramah Lansia (Nurani) mewisuda 30 wisudawan dan wisudawati jenjang Standar Satu (S1).
Sekolah ini berada di bawah Yayasan Almarhamah yang sebelumnya mengelola panti jompo di Jembatan Besi, Kelurahan Lingkas Ujung, Kecamatan Tarakan Timur.
Ketua Yayasan Almarhamah yang juga penggagas program Nurani, Muhammad Zulfunun menjelaskan bahwa wisuda merupakan rangkaian akhir dari kurikulum sekolah lansia S1.
Program ini dirancang sebagai upaya intervensi sosial untuk mengubah lansia yang sebelumnya mengalami disfungsi sosial menjadi kembali berfungsi dan aktif di tengah masyarakat.
Namun ia juga menegaskan bahwa wisuda tersebut bukan akhir dari proses pembinaan. Malaikan awal menuju pembinaan selanjutnya.
“Wisuda tersebut bukanlah akhir dari proses pembinaan, melainkan penanda kelulusan tahap pertama. Setelah S1, para lansia dapat melanjutkan ke jenjang S2 dan S3 dengan capaian yang lebih tinggi,” ujar Muhammad Zulfunun.
Ia menjelaskan pada jenjang S1, fokus utama adalah mengubah kepedulian menjadi kebahagiaan. Lansia yang sebelumnya kurang memiliki aktivitas didorong untuk kembali aktif melalui berbagai kegiatan sosial. Sehingga muncul kembali semangat berinteraksi dan berkontribusi di lingkungan masyarakat.
Selanjutnya pada jenjang S2, pendekatannya adalah mengubah kepedulian menjadi pemberdayaan. Pada tahap ini lansia dibekali keterampilan produktif, seperti membatik dan membuat sabun, yang telah mulai dipraktikkan. Lansia didorong untuk berkarya dan mengembangkan potensi diri agar tetap produktif.
Adapun pada jenjang S3, lansia ditargetkan menjadi duta lansia. Mereka diharapkan dapat berperan aktif di masyarakat. Seperti terlibat di posyandu, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPK), sekolah lansia, atau kegiatan sosial lainnya.
“Inilah tujuan besar dari program sekolah lansia, yakni menciptakan lansia yang mandiri, berdaya, dan berkontribusi,” jelasnya.
Terkait pembiayaan, program Sekolah Lansia tidak memungut biaya dari peserta. Seluruh pendanaan bersumber dari dana keumatan dan donasi masyarakat yang dikelola Yayasan Almarhamah.
Yayasan ini juga mengelola lembaga zakat dan berkolaborasi dengan amil zakat Dompet Dhuafa Nasional. Dana yang terhimpun kemudian dikelola dan diturunkan dalam bentuk program-program pemberdayaan.
Pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat karitatif atau bantuan konsumtif semata. Program ini lebih menekankan perubahan pola pikir dan peningkatan keterampilan lansia agar tidak hanya terpenuhi kebutuhan dasarnya, tetapi juga mampu menjalankan aktivitas kehidupan secara mandiri dan bermakna.
Dalam proses perekrutan peserta, pihak yayasan bekerja sama dengan pemerintah setempat melalui RT, RW, dan kelurahan untuk mendata calon peserta.
Lansia yang mengikuti program harus dalam kondisi sehat dan mampu bergerak aktif, karena kegiatan dilakukan di luar rumah dan membutuhkan mobilitas. Sementara lansia yang dalam kondisi bed rest atau tidak memungkinkan untuk aktif tetap mendapatkan pendampingan melalui program khusus lain yang disesuaikan dengan kondisi fisik mereka.
Kurikulum Sekolah lansia terdiri dari 12 kali pertemuan yang dilaksanakan dua minggu sekali. Materi disampaikan oleh para ahli, mulai dari dokter spesialis hingga tenaga profesional di bidangnya.
Yayasan berperan sebagai pendamping, sementara para narasumber memberikan pembinaan sesuai keahlian masing-masing.
Materi pembelajaran meliputi aspek pengetahuan umum, pelatihan keterampilan, keagamaan dan ibadah, kesehatan fisik, hingga kegiatan rekreasi.
Seluruh kurikulum dirancang untuk mengaktifkan kembali lansia yang sebelumnya pasif agar lebih sehat, percaya diri, dan terlibat dalam kehidupan sosial.
Sekolah Lansia Almarhamah menggunakan kurikulum khusus hasil kerja sama dengan Indonesia Ramah Lansia (IRL) di Yogyakarta serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
Secara historis, Yayasan Almarhamah sebelumnya dikenal sebagai panti jompo yang menampung lansia. Namun kini konsep tersebut telah diubah. Jika panti jompo berfokus pada penampungan, maka sekolah lansia mengembalikan lansia ke lingkungan keluarga agar tetap mendapatkan dukungan sosial.
Keterlibatan keluarga dinilai penting karena model penampungan memiliki berbagai dampak sosial dan psikologis yang kurang baik jika tidak dikelola dengan tepat. Program yang diwisuda saat ini merupakan angkatan pertama Sekolah Lansia Almarhamah.
Selain Sekolah Lansia, pada bulan Ramadan Yayasan Almarhamah juga menghadirkan sejumlah program baru, di antaranya Pesantren Lansia dengan materi yang lebih dominan pada pembinaan keagamaan. Ada pula program BBM (Belanja Barang Sembako) serta berbagai kegiatan pembinaan lainnya selama Ramadan. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen yayasan dalam memberdayakan lansia secara berkelanjutan


















Discussion about this post