TARAKAN – QRIS sebagai alat transaksi digital terus berkembang di Kalimantan Utara (Kaltara).
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara mencatatsepanjang 2023 – 2025, jumlah pengguna QRIS mencapai 131 ribu pengguna.
“Jumlah pengguna QRIS di Kalimantan Utara meningkat sepanjang 2023 sampai dengan 2025. Saat ini telah mencapai 131 ribu orang sampai akhir Desember, atau tumbuh 8,1 persen,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, Jumat (30/1/2026).
Pertumbuhan ini, diakui Hasiando, sedikit melambat. Akan tetapi dari jumlah pertumbuhan dinilai terus meningkat.
Kondisi ini dinilai wajar karena dari waktu ke waktu, potensi bertambanya semakin kecil, seiring terus diakomodirnya jumlah pengguna baru. Ia menilai pertumbuhan ini tetap positif dan sangat baik.
Tingkat penetrasi QRIS terhadap penduduk usia produktif di Kaltara juga cukup baik. Yaitu sebesar 25% atau 392 ribu jiwa dari total penduduk Kaltara.
Tingkat penetrasi QRIS yaitu perbandingan antara pengguna QRIS dengan penduduk usia produktif yang di atas 17 tahun hingga sudah bekerja.
Potensi itulah yang saat ini sedang dimaksimalkan KPwBI Kaltara untuk menjadi pengguna baru QRIS. Akan tetapi Hasiando mengakui tidak mudah merealisasikannya.
Penyebabnya karena kondisi geografis Kaltara yang berbeda-beda. Ada perkotaan, perbatasan kepulauan, hingga pedalaman. Hal ini menjadi tantangan bagi KPwBI Kaltara.
Sementara itu, merchant QRIS juga mengalami pertumbuhan di Kaltara sebesar 18,3% pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2024.
“Dari 95.369 merchant, meningkat menjadi 112.826 merchant. Jadi meningkat 18%,” beber Hasiando.
Secara density, terbanyak jumlah merchant berada di Tarakan, diikuti Nunukan dan Bulungan.
Pertumbuhan pengguna dan merchant ini juga diikuti volume atau jumlah transaksi dan nominal. Hasiando membeberkan volume tumbuh 408℅ dari tahun 2024. Sedangkan untuk nominal transaksi tumbuh 266℅. (*)



















Discussion about this post