TARAKAN – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Apkasindo, Rino Afrino meminta masyarakat untuk tidak membenci kelapa sawit setelah dikaitkan dengan bencana banjir bandang di Sumatera.
Ia justru menilai kelapa sawit telah memberi banyak manfaat bagi Indonesia. Mulai dari memenuhi kebutuhan pokok hingga meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya petani sawit maupun Indonesia secara umum.
“Kita kampanyekan hal yang positif. Kita sebagai warga sawit, kita counter, kita kasih pandangan-pandangan, jangan benci sawit. Karena faktanya Indonesia selamat dari krisis, Indonesia selamat dari covid karena sawit. Sawit yang dibutuhkan seluruh dunia,” pinta Rino Afrino dalam sambutannya saat menghadiri pengukuhan pengurus DPW Aplikasindo Kaltara di Hotel Lotus Panaya Tarakan, Kamis (8/1/2026).
Menurutnya, kelapa sawit merupakan tanaman yang ajaib. Karena selain menghasilkan minyak goreng, juga digunakan sebagai bahan baku sejumlah produk turunannya. Baik produk makanan, industri dan lain-lain.
“Kenapa ajaib? karena sawit mampu menghasilkan dua minyak yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Saya sudah berjalan mengelilingi dunia dengan tim asosiasi sawit Indonesia, saya melihat seluruh yang kita pakai dalam kehidupan kita mulai bangun tidur sampai tidur lagi, semua berasal dari minyak sawit,” tutur Rino Afrino.
Menurut Rino, masyarakat Indonesia mestinya bersyukur karena sawit mampu tumbuh subur di Indonesia. Padahal asalnya dari Afrika dan Amerika Latin.
Sawit juga mampu menopamg perekonomian masyarakat terutama yang menjadi petani sawit. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk menyekolahkan anak-anak mereka.
“Rasanya kurang elok kalau kita tidak bersyukur sebagai manusia bahwa nikmat yang sudah diperoleh dari berkebun sawit. Walaupun bukan kita, bisa jadi saudara kita dari berbagai daerah. Mereka sedang menikmatinya agar bisa keluar dari garis kemiskinannya tanpa intervensi APBD dan APBN, mereka bisa cukup makan,” tutur Rino Afrino.
Kehadiran kelapa sawit juga mampu menumbuhkan perekonomian Indonesia. Karena kelapa sawit menjadi komoditas global yang dibutuhkan seluruh dunia. Sehingga harganya pun ditentukan berdasarkan harga internasional.
Karena itu, Presiden Prabowo Subianto juga telah meletakkan kelapa sawit sebagai komoditas strategis yang akan dikejar hilirisasinya dalam Rencangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2030 untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Rino menekankan tidak boleh ekspor sawit distop. Karena jika distop, maka harga sawit akan turun karena menggunakan harga lokal yang diambil dari biaya pokok produksi.
Ia juga menilai hadirnya perkebunan kelapa sawit mengubah wilayah yang dulunya sulit dijangkau, tumbuh menjadi di daerah yang berkembang. Dengan dibangunnya sekolah dan fasilitas lainnya. (jkr)



















Discussion about this post