TARAKAN – Populasi monyet jenis bekantan di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) di Tarakan hanya tersisa 42 ekor.
Terdiri dewasa jantan ada 4 ekor, dewasa betina 16 ekor, anak bekantan ada 16 ekor dan bayi ada 6 ekor.
Petugas KKMB, Miko menjelaskan sebenarnya jumlah bekantan cukup banyak. Namun, penambahan itu juga seiring kematian yang dialami. sehingga yang tersisa hanya 42 ekor.
Kematiannya juga tanpa diketahui penyebabnya. Tiba-tiba saja didapati bekantan yang sudah tidak bernyawa.
“Sebenarnya ada sih (penambahan signifikan). Cuma ada juga kematian. Jadi antara kelahiran seiring juga dengan kematiannya. Bulan ini saja ada mati satu ekor. Cuma masih kita cari tahu penyebabnya,” tutur Miko, belum lama ini.
Ia menjelaskan pihaknya rutin memberikan makan. Berupa makanan tambahan sehari sekali. Pihaknya juga selalu mendata jumlah bekantan setiap bulan. Sehingga bisa diketahui perkembangannya.
“Tiap bulan kita data. Tujuannya untuk melihat kalau misalnya terdapat kematian, kita bisa cepat mendeteksi, cepat kita carikan penyebabnya apa , cepat uga kita mencarikan solusinya untuk keberlangsungan bekantan ini,” tutur Miko.
Apabila bekantan tersebut mengalami sakit pihaknya berkoordinasi dengan karantina hewan untuk ditindaklanjuti dengan dilakukan perawatan.
Terkait tingkah laku bekantan, Niko mengaku sebenarnya hewan endemik Kalimantan ini sifatnya pemalu sehingga lebih sering menyepi dan menghindari keramaian.
Karena itu, Miko menilai bekantan ini jarang ke pemukiman warga sekitar. Kecuali bermain di mess salah satu pabrik udang yang bersebelahan dengan KKMB. Karena di sekitar pabrik udang tersebut juga banyak tanaman mangrove yang menjadi habitatnya.
Akan tetapi Miko memastikan bekantan tersebut tidak agresif mengganggu karyawan. Hanya berada di atas seng mess karyawan.



















Discussion about this post