TARAKAN – Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II Kalimantan Utara (Kaltara) tinggal menghitung hari. Sesuai jadwal, pesta olahraga multi event empat tahunan di Bumi Benuanta itu dihelat mulai 10 November di Malinau.
Jelang pertandingan, Ketua Panwasrah Porprov II Kaltara, Wiyono Adie, memastikan pihaknya telah mengkristalkan kesepakatan terkait desain pelaksanaan porprov, baik menyangkut kelas tanding, batasan usia, hingga jadwal pertandingan.
Hal itu disampaikan usai mengikuti rapat koordinasi persiapan Porprov II Kaltara bersama KONI Kaltara dan cabang olahraga dan KONI kabupaten dan kota.
“Yang jelas kita sudah mulai mengkristal sepakat tentang desain yang akan dilaksanakan di porprov, baik yang menyangkut masalah kelas tanding, usia, waktu, dan lain sebagainya,” ujar Wiyon, Kamis (29/10/2026).
Setelah menyepakati desain pertandingan, fokus pembahasan selanjutnya adalah kesiapan sarana prasarana dan venue. Dalam rangka itu, pihaknya bersama PB Porprov akan melakukan pengecekan on the spot di lapangan.
“Kita lebih berkutat pada persoalan yang besok kita lakukan on the spot, yaitu masalah sarana dan prasarana dan venue,” kata Wiyono.
Menurutnya, venue di Malinau saat ini sudah memasuki tahap finishing. Beberapa sarana memang belum terpasang secara utuh, terutama yang berkaitan dengan sistem elektronik.
Namun, PB Porprov dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau telah mempersiapkan secara maksimal, dan pembuktiannya akan dilihat langsung saat peninjauan lapangan.
Ia mengakui kebutuhan sarana prasarana tidak bisa dipenuhi secara ideal mengingat keterbatasan waktu dan anggaran. Karena itu, perhitungan anggaran dilakukan berdasarkan skala prioritas.
“Tidak bisa kita pakai standar ideal. Kalau mau pakai standar ideal harus begini begitu, kita tidak mungkin dalam waktu seperti ini. Masalah dana juga tidak bisa membackup secara utuh,” jelas Wiyono.
Nantinya, tim dari PB Porprov dan Panwasrah akan merapatkan formulasi anggaran untuk setiap cabang olahraga yang bersifat prioritas.
Bantuan anggaran akan difokuskan pada kebutuhan habis pakai, seperti bola untuk bulu tangkis atau cabang olahraga lain yang memang harus menggunakan peralatan sekali pakai.
Sementara untuk peralatan yang bisa dipinjam atau digunakan bersama, seperti matras bela diri, tidak perlu dilakukan pembelian baru. Peralatan tersebut bisa dipinjamkan secara bergantian antar cabor.
“Kesimpulannya untuk berapa besar nominal cost untuk bantuan ke cabor-cabor itu nanti akan diverifikasi tim secara utuh. Kita berusaha peralatan ini multifungsi, tidak terlalu idealis cabor ini punya sendiri,” ujarnya.
Terkait keabsahan peserta, Wiyono menyebut data kasar sudah masuk dan pihaknya akan bekerja selama 5 hingga 7 hari ke depan untuk melakukan validasi.
Validasi tersebut akan dibahas tuntas dalam Daftar Registrasi Meeting (DRM) melalui Entry By Name untuk memastikan jumlah atlet, cabor, dan persyaratan lainnya.
“Keabsahan peserta ini saat ini sudah kerja, tinggal finalisasinya. Kita memberikan input hari ini agar menjadi koreksi bagi kontingen kabupaten kota,” katanya.
Sejauh ini, kendala terkait atlet yang tertolak sangat minim. Hanya ada satu dua kasus yang tidak memenuhi syarat usia minimal atau maksimal, namun persentasenya sangat kecil.
Untuk cabang olahraga yang hanya diikuti dua peserta dan berpotensi menjadi eksibisi, pihaknya tetap akan mempertandingkan, terutama untuk cabor yang dipersiapkan menuju PON.
“Kalau cabor itu pada saat Entry By Number-nya tiga tapi dalam perjalanan jadi dua, tetap kita pertandingkan dan medali tetap berlaku. Karena ukuran kita adalah Entry By Number,” tegasnya.
Ia memastikan tidak ada penambahan nomor tanding di luar Technical Handbook (THB) yang telah ditetapkan. Semua pihak telah sepakat untuk konsisten dengan timeline yang ada demi kelancaran Porprov II Kaltara di Malinau. (jkr)












Discussion about this post