TARAKAN – Tantangan yang akan dihadapi perusahaan air minum daerah PDAM ke depan dalam pelayanan air bersih, semakin kompleks. Mulai dari teknologi, manajemen risiko, manajemen keuangan dan lain-lain.
Karena itu kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) perlu ditingkatkan agar dapat menjawab tantangan tersebut yang terus berkembang seiring perubahan zaman.
Hal ini menjadi tujuan dilaksanakannya In House Training oleh Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) Kalimantan Utara (Kaltara).
Kegiatan yang diikuti 170 karyawan PDAM Kaltara digelar di Kayan multifunction hall Hotel Tarakan Plaza, Senin (4/5/2026) dengan tema ” penguatan kompetensi SDM dalam pengolahan air minum profesional dan berkelanjutan PDAM Kalimantan Utara”.
“Yang krusial dalam pelayanan PDAM ini adalah kualitas SDM-nya. Sebagus apapun sistemnya, kalau SDM-nya lemah, pasti akan berat ke.depannya. Makanya SDM PDAM ini kita terus upgrade skillnya, pengetahuannya supaya mereka nanti bisa menghadapi tantangan pelayanan yang lebih kompleks ke depannya,” ujar Ketua Perpamsi Kaltara, Iwan Setiawan.
Menurut pria yang juga menjabat Direktur Perumda Tirta Alam Tarakan, kegiatan ini rutin digelar. Bahkan sudah memasuki penyelenggaraan keempat kali melibatkan semua karyawan PDAM se-Kaltara.
Iwan Setiawan menilai pelatihan ini memberikan dampak yang cukup positif terhadap pembenahan. Terbukti kinerja pelayanan PDAM se-Kaltara terus berkembang lebih baik.
“Kalau kita lihat sudah semakin baik. Contoh PDAM Nunukan yang responnya semakin cepat dalam penanganan daerah yang belum dapat air. Bahkan sudah setor dividen juga Rp2 miliar, Bulungan juga seperti itu semakin baik, Malinau juga, kita harapkan semua seperti ini, jangan sampai PDAM Tarakan saja yang bagus. Saya mengajak seluruh PDAM di Kaltara Mari kita sama-sama membenahi pelayanan air minum,” tutur Iwan.
Sementara itu salah satu narasumber, Prof. Dr. Tri Ratnawati, Ak, M.S, CA, CPA menyampaikan pentingnya bagi karyawan badan usaha baik negara maupun daerah memahami manajemen risiko untuk menjamin keberlanjutan perusahaan.
Menurutnya, manajemen risiko ada dua. Yaitu ang bisa dikendalikan meliputi risiko internal dan yang tidak bisa dikendalikan yaitu eksternal.
Karena itu, PDAM se-kalimantan Utara harus bisa merencanakan, mengorganisasikan, mengimplementasikan dan melakukan pengawasan serta audit internal terhadap manajemen risiko.
“Maka manajemen risiko ini harus bisa dideteksi mulai dari diinventarisasi risiko itu, kemudian diidentifikasi mulai dari yang risiko tinggi, risiko sedang hingga risiko rendah, kemudian dinilai risiko ini, diawasi dan kemudian dilakukan tindak lanjut terhadap risiko yang akan terjadi bahkan yang sudah terjadi dengan menggunakan basis IT dengan early warning system mulai dari yang statusnya berwarna hijau, kuning berhati-hati dan kemudian merah sudah emergency resiko itu harus di tanggulangi,” ujar Tri Ratnawati.
Menurut Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tujubelas Agustus (Untag) Surabaya ini internal maupun eksternal audit harus bisa melihat risiko sebuah bisnis dari perusahaan untuk mempertimbangkan temuan-temuan kemudian memberikan rekomendasi hingga opini auditnya. (jkr)













Discussion about this post